Self Healing Dengan Dokter Paulus Andrian



Self Healing dengan Dokter Paulus Andrian

Disadur dari Gubub Cahaya.

dokter Paulus andrian

Kami sedang antri periksa kesehatan. Dokter spesialis yang kami kunjungi ini termasuk dokter sepuh bernama Dokter Paulus Andrian –berusia sekitar tujuh puluhan.

“Silakan duduk,” sambut dokter Paulus.

Aku duduk di depan meja kerjanya, mengamati pria sepuh berkacamata ini yang sedang sibuk menulis identitasku di kartu pasien.

“Apa yang dirasakan, Mas?”

Aku pun bercerita tentang apa yang kualami sejak 2013 hingga saat ini. Mulai dari awal merasakan sakit maag, peristiwa-peristiwa kram perut, ambruk berkali-kali, gejala dan vonis tipes, pengalaman opnam dan endoskopi, derita GERD, hingga tentang radang duodenum dan praktek tata pola makan Food Combining yang kulakoni.

“Kalau kram perutnya sudah enggak pernah lagi, Pak,” ungkapku, “Tapi sensasi panas di dada ini masih kerasa, panik juga cemas, mules, mual. Kalau telat makan, maag saya kambuh. Apalagi setelah beberapa bulan tata pola makan saya amburadul lagi.”

“Tapi buat puasa kuat ya?”

“Kuat, Pak.”

“Orang kalau kuat puasa, harusnya nggak bisa kena maag!”

Aku terbengong, menunggu penjelasan.

“Asam lambung itu,” terang Pak Paulus, “Diaktifkan oleh instruksi otak kita. Kalau otak kita bisa mengendalikan persepsi, maka asam lambung itu akan nurut sendiri. Dan itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang puasa.”

“Maksudnya, Pak?”

“Orang puasa ‘kan malamnya wajib niat to?”

“Njih, Pak.”

“Nah, niat itulah yang kemudian menjadi kontrol otak atas asam lambung. Ketika situ sudah bertekad kuat besok mau puasa, besok nggak makan sejak subuh sampai maghrib, itu membuat otak menginstruksikan kepada fisik biar kuat, asam lambung pun terkendali. Ya kalau sensasi lapar memang ada, namanya juga puasa. Tapi asam lambung tidak akan naik, apalagi sampai parah. Itu syaratnya kalau situ memang malamnya sudah niat mantap. Kalau cuma di mulut bilang mau puasa tapi hatinya nggak mantap, ya tetap nggak kuat. Makanya niat itu jadi kewajiban, ‘kan?”

“Iya, ya, Pak,” aku manggut-manggut nyengir.

“Manusia itu, Mas, secara ilmiah memang punya tenaga cadangan hingga enam puluh hari. Maksudnya, kalau orang sehat itu bisa tetap bertahan hidup tanpa makan dalam keadaan sadar selama dua bulan. Misalnya puasa dan buka-sahurnya cuma minum sedikit. Itu kuat. Asalkan tekadnya juga kuat.”

Aku melongo lagi.

“Makanya, dahulu raja-raja Jawa itu sebelum jadi raja, mereka tirakat dulu. Misalnya puasa empat puluh hari. Bukanya cuma minum air kali. Itu jaman dulu ya, waktu kalinya masih bersih. Hahaha,” ia tertawa ringan, menambah rona wajahnya yang memang kelihatan masih segar meski keriput penanda usia.

Kemudian ia mengambil sejilid buku di rak sebelah kanan meja kerjanya. Ya, ruang praktek dokter dengan rak buku. Keren sekali. Aku lupa judul dan penulisnya. Ia langsung membuka satu halaman dan menunjukiku beberapa baris kalimat yang sudah distabilo hijau.

“Coba baca, Mas:

‘mengatakan adalah mengundang, memikirkan adalah mengundang, meyakini adalah mengundang’. Jadi kalau situ memikirkan; ‘ah, kalau telat makan nanti asam lambung saya naik’, apalagi berulang-ulang mengatakan dan meyakininya, ya situ berarti mengundang penyakit itu. Maka benar kata orang-orang itu bahwa perkataan bisa jadi doa. Nabi Musa itu, kalau kerasa sakit, langsung mensugesti diri; ah sembuh. Ya sembuh. Orang-orang debus itu nggak merasa sakit saat diiris-iris kan karena sudah bisa mengendalikan pikirannya. Einstein yang nemuin bom atom itu konon cuma lima persen pendayagunaan otaknya. Jadi potensi otak itu sebenarnya sungguh luar biasa,” papar Pak Paulus.

“Jadi kalau jadwal makan sembarangan berarti sebenarnya nggak apa-apa ya, Pak?”

“Nah, itu lain lagi. Makan harus tetap teratur, ajeg, konsisten. Itu agar menjaga aktivitas asam lambung juga. Misalnya situ makan tiga kali sehari, maka jarak antara sarapan dan makan siang buatlah sama dengan jarak antara makan siang dan makan malam. Misalnya, sarapan jam enam pagi, makan siang jam dua belas siang, makan malam jam enam petang. Kalau siang, misalnya jam sebelas situ rasanya nggak sempat makan siang jam dua belas, ya niatkan saja puasa sampai sore. Jangan mengundur makan siang ke jam dua misalnya, ganti aja dengan minum air putih yang banyak. Dengan pola yang teratur, maka organ di dalam tubuh pun kerjanya teratur. Nah, pola teratur itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang yang puasa dengan waktu buka dan sahurnya.”

“Ooo, gitu ya Pak,” sahutku baru menyadari.

“Tapi ya itu tadi. Yang lebih penting adalah pikiran situ, yakin nggak apa-apa, yakin sembuh. Allah sudah menciptakan tubuh kita untuk menyembuhkan diri sendiri, ada mekanismenya, ada enzim yang bekerja di dalam tubuh untuk penyembuhan diri. Dan itu bisa diaktifkan secara optimal kalau pikiran kita optimis. Kalau situ cemas, takut, kuatir, justru imunitas situ turun dan rentan sakit juga.”

Pak Paulus mengambil beberapa jilid buku lagi, tentang ‘enzim kebahagiaan’ endorphin, tentang enzim peremajaan, dan beberapa tema psiko-medis lain tulisan dokter-dokter Jepang dan Mesir.

“Situ juga berkali-kali divonis tipes ya?”

“Iya, Pak.”

“Itu salah kaprah.”

“Maksudnya?”

“Sekali orang kena bakteri thypoid penyebab tipes, maka antibodi terhadap bakteri itu bisa bertahan dua tahun. Sehingga selama dua tahun itu mestinya orang tersebut nggak kena tipes lagi. Bagi orang yang fisiknya kuat, bisa sampai lima tahun. Walaupun memang dalam tes widal hasilnya positif, tapi itu bukan tipes. Jadi selama ini banyak yang salah kaprah, setahun sampai tipes dua kali, apalagi sampai opnam. Itu biar rumah sakitnya penuh saja. Kemungkinan hanya demam biasa.”

“Haah?”

“Iya Mas. Kalaupun tipes, nggak perlu dirawat di rumah sakit sebenarnya. Asalkan dia masih bisa minum, cukup istirahat di rumah dan minum obat tipes. Sembuh sudah. Dulu, pernah di RS Sardjito, saya anjurkan agar belasan pasien tipes yang nggak mampu, nggak punya asuransi, rawat jalan saja. Yang penting tetep konsumsi obat dari saya, minum yang banyak, dan tiap hari harus cek ke rumah sakit, biayanya gratis. Mereka nurut. Itu dalam waktu maksimal empat hari sudah pada sembuh. Sedangkan pasien yang dirawat inap, minimal baru bisa pulang setelah satu minggu, itupun masih lemas.”

“Tapi ‘kan pasien harus bedrest, Pak?”

“Ya ‘kan bisa di rumah.”

“Tapi kalau nggak pakai infus ‘kan lemes terus Pak?”

“Nah situ nggak yakin sih. Saya yakinkan pasien bahwa mereka bisa sembuh. Asalkan mau nurut dan berusaha seperti yang saya sarankan itu. Lagi-lagi saya bilang, kekuatan keyakinan itu luar biasa lho, Mas.”

Dahiku berkernyit. Menunggu lanjutan cerita.

“Dulu,” lanjut Pak Paulus, “Ada seorang wanita kena kanker payudara. Sebelah kanannya diangkat, dioperasi di Sardjito.

Nggak lama, ternyata payudara kirinya kena juga. Karena nggak segera lapor dan dapat penanganan, kankernya merembet ke paru-paru dan jantung. Medis di Sardjito angkat tangan.

Dia divonis punya harapan hidup maksimal hanya empat bulan.”

“Lalu, Pak?” tanyaku antusias.

“Lalu dia kesini ketemu saya. Bukan minta obat atau apa.

Dia cuma nanya; ‘Pak Paulus, saya sudah divonis maksimal empat bulan.

Kira-kira bisa nggak kalau diundur jadi enam bulan?’

Saya heran saat itu, saya tanya kenapa.

Dia bilang bahwa enam bulan lagi anak bungsunya mau nikah, jadi pengen ‘menangi’ momen itu.”

“Waah.. Lalu, Pak?”

“Ya saya jelaskan apa adanya. Bahwa vonis medis itu nggak seratus persen, walaupun prosentasenya sampai sembilan puluh sembilan persen,

tetap masih ada satu persen berupa kepasrahan kepada Tuhan yang bisa mengalahkan vonis medis sekalipun.

Maka saya bilang; sudah Bu, situ nggak usah mikir bakal mati empat bulan lagi.

Justru situ harus siap mental, bahwa hari ini atau besok situ siap mati.

Kapanpun mati, siap!

Begitu, situ pasrah kepada Tuhan, siap menghadap Tuhan kapanpun. Tapi harus tetap berusaha bertahan hidup.”

Aku tambah melongo. Tak menyangka ada nasehat macam itu.

Kukira ia akan memotivasi si ibu agar semangat untuk sembuh, malah disuruh siap mati kapanpun.

O iya, mules mual dan berbagai sensasi ketidaknyamanan sudah tak kurasakan lagi.

“Dia mau nurut. Untuk menyiapkan mental siap mati kapanpun itu dia butuh waktu satu bulan.

Dia bilang sudah mantap, pasrah kepada Tuhan bahwa dia siap.

Dia nggak lagi mengkhawatirkan penyakit itu, sudah sangat enjoy.

Nah, saat itu saya cuma kasih satu macam obat. Itupun hanya obat anti mual biar dia tetap bisa makan dan punya energi untuk melawan kankernya.

Setelah hampir empat bulan, dia check-up lagi ke Sardjito dan di sana dokter yang meriksa geleng-geleng. Kankernya sudah berangsur-angsur hilang!”

“Orangnya masih hidup, Pak?”

“Masih. Dan itu kejadian empat belas tahun lalu.”

“Wah, wah, wah..”

“Kejadian itu juga yang menjadikan saya yakin ketika operasi jantung dulu.”

“Lhoh, njenengan pernah Pak?”

“Iya.

Dulu saya operasi bedah jantung di Jakarta. Pembuluhnya sudah rusak. Saya ditawari pasang ring.

Saya nggak mau. Akhirnya diambillah pembuluh dari kaki untuk dipasang di jantung.

Saat itu saya yakin betul sembuh cepat. Maka dalam waktu empat hari pasca operasi, saya sudah balik ke Jogja, bahkan dari bandara ke sini saya nyetir sendiri.

Padahal umumnya minimal dua minggu baru bisa pulang.

Orang yang masuk operasi yang sama bareng saya baru bisa pulang setelah dua bulan.”

Pak Paulus mengisahkan pengalamannya ini dengan mata berbinar. Semangatnya meluap-luap hingga menular ke pasiennya ini. Jujur saja, penjelasan yang ia paparkan meningkatkan harapan sembuhku dengan begitu drastic.

Persis ketika dua tahun lalu pada saat ngobrol dengan Bu Anung tentang pola makan dan kesehatan. Semangat menjadi kembali segar!

“Tapi ya nggak cuma pasrah terus nggak mau usaha.

Saya juga punya kenalan dokter,” lanjutnya,

“Dulu tugas di Bethesda, aslinya Jakarta, lalu pindah mukim di Tennessee, Amerika.

Di sana dia kena kanker stadium empat. Setelah divonis mati dua bulan lagi, dia akhirnya pasrah dan pasang mental siap mati kapanpun.

Hingga suatu hari dia jalan-jalan ke perpustakaan, dia baca-baca buku tentang Afrika.

Lalu muncul rasa penasaran, kira-kira gimana kasus kanker di Afrika.

Dia cari-cari referensi tentang itu, nggak ketemu. Akhirnya dia hubungi kawannya, seorang dokter di Afrika Tengah.

Kawannya itu nggak bisa jawab.

Lalu dihubungkan langsung ke kementerian kesehatan sana. Dari kementerian, dia dapat jawaban mengherankan, bahwa di sana nggak ada kasus kanker.

Nah dia pun kaget, tambah penasaran.”

Pak Paulus jeda sejenak. Aku masih menatapnya penuh penasaran juga, “Lanjut, Pak,” benakku.

“Beberapa hari kemudian dia berangkat ke Afrika Tengah.

Di sana dia meneliti kebiasaan hidup orang-orang pribumi. Apa yang dia temukan?

Orang-orang di sana makannya sangat sehat.

Yaitu sayur-sayuran mentah, dilalap, nggak dimasak kayak kita.

Sepiring porsi makan itu tiga perempatnya sayuran, sisanya yang seperempat untuk menu karbohidrat. Selain itu, sayur yang dimakan ditanam dengan media yang organik. Pupuknya organik pake kotoran hewan dan sisa-sisa tumbuhan.

Jadi ya betul-betul sehat.

Nggak kayak kita, sudah pupuknya pakai yang berbahaya, eh pakai dimasak pula. Serba salah kita.

Bahkan beras merah dan hitam yang sehat-sehat itu, kita nggak mau makan.

Malah kita jadikan pakan burung, ya jadinya burung itu yang sehat, kitanya sakit-sakitan.”

Keterangan ini mengingatkanku pada obrolan dengan Bu Anung tentang sayur mayur, menu makanan serasi, hingga beras sehat. Pas sekali.

“Nah dia yang awalnya hanya ingin tahu, akhirnya ikut-ikutan.

Dia tinggal di sana selama tiga mingguan dan menalani pola makan seperti orang-orang Afrika itu.”

“Hasilnya, Pak?”

“Setelah tiga minggu, dia kembali ke Tennessee.

Dia mulai menanam sayur mayur di lahan sempit dengan cara alami.

Lalu beberapa bulan kemudian dia check-up medis lagi untuk periksa kankernya,”

“Sembuh, Pak?”

“Ya! Pemeriksaan menunjukkan kankernya hilang.

Kondisi fisiknya berangsur-angsur membaik. Ini bukti bahwa keyakinan yang kuat, kepasrahan kepada Tuhan, itu energi yang luar biasa.

Apalagi ditambah dengan usaha yang logis dan sesuai dengan fitrah tubuh.

Makanya situ nggak usah cemas, nggak usah takut..”

Takjub, tentu saja.

Pada momen ini Pak Paulus menghujaniku dengan pengalaman-pengalamannya di dunia kedokteran, tentang kisah-kisah para pasien yang punya optimisme dan pasien yang pesimis.

Aku jadi teringat kisah serupa yang menimpa alumni Madrasah Huffadh Al-Munawwir, pesantren tempatku belajar saat ini.

Singkatnya, santri ini mengidap tumor ganas yang bisa berpindah-pindah benjolannya.

Ia divonis dokter hanya mampu bertahan hidup dua bulan. Terkejut atas vonis ini, ia misuh-misuh di depan dokter saat itu.

Namun pada akhirnya ia mampu menerima kenyataan itu.

Ia pun bertekad menyongsong maut dengan percaya diri dan ibadah. Ia sowan ke Kiai, menyampaikan maksudnya itu.

Kemudian oleh Kiai, santri ini diijazahi (diberi rekomendasi amalan)

Riyadhoh Qur’an, yakni amalan membaca Al-Quran tanpa henti selama empat puluh hari penuh, kecuali untuk memenuhi hajat dan kewajiban primer.

Riyadhoh pun dimulai. Ia lalui hari-hari dengan membaca Al-Quran tanpa henti.

Persis di pojokan aula Madrasah Huffadh yang sekarang. Karena merasa begitu dingin, ia jadikan karpet sebagai selimut.

Hari ke tiga puluh, ia sering muntah-muntah, keringatnya pun sudah begitu bau.

Bacin, mirip bangkai tikus,kenang narasumber yang menceritakan kisah ini padaku. Hari ke tiga puluh lima, tubuhnya sudah nampak lebih segar, dan ajaibnya; benjolan tumornya sudah hilang.

Selepas rampung riyadhoh empat puluh hari itu, dia kembali periksa ke rumah sakit di mana ia divonis mati.

Pihak rumah sakit pun heran.

Penyakit pemuda itu sudah hilang, bersih, dan menunjukkan kondisi vital yang sangat sehat!

Aku pribadi sangat percaya bahwa gelombang yang diciptakan oleh ritual ibadah bisa mewujudkan energi positif bagi fisik.

Khususnya energi penyembuhan bagi mereka yang sakit.

Memang tidak mudah untuk sampai ke frekuensi itu, namun harus sering dilatih. Hal ini diiyakan oleh Pak Paulus.

“Untuk melatih pikiran biar bisa tenang itu cukup dengan pernapasan.

Situ tarik napas lewat hidung dalam-dalam selama lima detik, kemudian tahan selama tiga detik. Lalu hembuskan lewat mulut sampai tuntas. Lakukan tujuh kali setiap sebelum Shubuh dan sebelum Maghrib.

Itu sangat efektif. Kalau orang pencak, ditahannya bisa sampai tujuh detik.

Tapi kalau untuk kesehatan ya cukup tiga detik saja.”

Nah, anjuran yang ini sudah kupraktekkan sejak lama. Meskipun dengan tata laksana yang sedikit berbeda.

Terutama untuk mengatasi insomnia. Memang ampuh. Yakni metode empat-tujuh-delapan.

Ketika merasa susah tidur alias insomnia, itu pengaruh pikiran yang masih terganggu berbagai hal.

Maka pikiran perlu ditenangkan, yakni dengan pernapasan.

Tak perlu obat, bius, atau sejenisnya, murah meriah.

Pertama, tarik napas lewat hidung sampai detik ke empat, lalu tahan sampai detik ke tujuh, lalu hembuskan lewat mulut pada detik ke delapan. Ulangi sebanyak empat sampai lima kali.

Memang iya mata kita tidak langsung terpejam ngantuk, tapi pikiran menjadi rileks dan beberapa menit kemudian tanpa terasa kita sudah terlelap.

Awalnya aku juga agak ragu, tapi begitu kucoba, ternyata memang ampuh. Bahkan bagi yang mengalami insomnia disebabkan rindu akut sekalipun.

“Gelombang yang dikeluarkan oleh otak itu punya energi sendiri, dan itu bergantung dari seberapa yakin tekad kita dan seberapa kuat konsentrasi kita,” terangnya,

“Jadi kalau situ sholat dua menit saja dengan khusyuk, itu sinyalnya lebih bagus ketimbang situ sholat sejam tapi pikiran situ kemana-mana, hehehe.”

Duh, terang saja aku tersindir di kalimat ini.

“Termasuk dalam hal ini adalah keampuhan sholat malam.

Sholat tahajud. Itu ketika kamu baru bangun di akhir malam, gelombang otak itu pada frekuensi Alpha. Jauh lebih kuat daripada gelombang Beta yang terjadi pada waktu Isya atau Shubuh.

Jadi ya logis saja kalau doa di saat tahajud itu begitu cepat ‘naik’ dan terkabul. Apa yang diminta, itulah yang diundang.

Ketika tekad situ begitu kuat, ditambah lagi gelombang otak yang lagi kuat-kuatnya, maka sangat besar potensi terwujud doa-doa situ.”

Tak kusangka Pak Paulus bakal menyinggung perihal sholat segala.  Aku pun ternganga. Ia menunjukkan sampul buku tentang ‘enzim panjang umur’.

“Tubuh kita ini, Mas, diberi kemampuan oleh Allah untuk meregenerasi sel-sel yang rusak dengan bantuan enzim tertentu, populer disebut dengan enzim panjang umur.  Secara berkala sel-sel baru terbentuk, dan yang lama dibuang.

Ketika pikiran kita positif untuk sembuh, maka yang dibuang pun sel-sel yang terkena penyakit.

Menurut penelitian, enzim ini bisa bekerja dengan baik bagi mereka yang sering merasakan lapar dalam tiga sampai empat hari sekali.”

Pak Paulus menatapku, seakan mengharapkan agar aku menyimpulkan sendiri.

“Puasa?”

“Ya!”

“Senin-Kamis?”

“Tepat sekali! Ketika puasa itu regenerasi sel berlangsung dengan optimal.

Makanya orang puasa sebulan itu juga harusnya bisa jadi detoksifikasi yang ampuh terhadap berbagai penyakit.”

Lagi-lagi,aku manggut-manggut.

Tak asing dengan teori ini.

“Pokoknya situ harus merangsang tubuh agar bisa menyembuhkan diri sendiri.

Jangan ketergantungan dengan obat. Suplemen yang nggak perlu-perlu amat,nggak usahlah. Minum yang banyak, sehari dua liter, bisa lebih kalau situ banyak berkeringat, ya tergantung kebutuhan.

Tertawalah yang lepas, bergembira, nonton film lucu tiap hari juga bisa merangsang produksi endorphin, hormon kebahagiaan. Itu akan sangat mempercepat kesembuhan.

Penyakit apapun itu! Situ punya radang usus kalau cemas dan khawatir terus ya susah sembuhnya.

Termasuk asam lambung yang sering kerasa panas di dada itu.”

Terus kusimak baik-baik anjurannya sambil mengelus perut yang tak lagi terasa begah. Aneh.

“Tentu saja seperti yang saya sarankan, situ harus teratur makan, biar asam lambung bisa teratur juga.

Bangun tidur minum air hangat dua gelas sebelum diasupi yang lain.

Ini saya kasih vitamin saja buat situ, sehari minum satu saja. Tapi ingat, yang paling utama adalah kemantapan hati, yakin, bahwa situ nggak apa-apa. Sembuh!”

Begitulah. Perkiraanku yang tadinya bakal disangoni berbagai macam jenis obat pun keliru.

Hanya dua puluh rangkai kaplet vitamin biasa, Obivit, suplemen makanan yang tak ada ?;kaitannya dengan asam lambung apalagi GERD.

Hampir satu jam kami ngobrol di ruang praktek itu, tentu saja ini pengalaman yang tak biasa. Seperti konsultasi dokter pribadi saja rasanya.

Padahal saat keluar, kulihat masih ada dua pasien lagi yang kelihatannya sudah begitu jengah menunggu.

“Yang penting pikiran situ dikendalikan, tenang dan berbahagia saja ya,” ucap Pak Paulus sambil menyalamiku ketika hendak pamit.

Dan jujur saja, aku pulang dalam keadaan bugar, sama sekali tak merasa mual, mules, dan saudara-saudaranya.


Roh Ketakutan



ROH KETAKUTAN

“Tuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” Mazmur 27:1

ketakutan
ketakutan

Ketakutan adalah salah satu masalah terbesar dalam kehidupan manusia. Rasa takut yang berlebihan bisa dikategorikan sebagai suatu kelainan yang disebut fobia, yaitu kecemasan yang luar biasa, terus-menerus, tidak realistis sebagai respons terhadap keadaan eksternal tertentu.

Definisi takut adalah: merasa gemetar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana; tidak berani.

Penyebab rasa takut dalam diri tiap-tiap orang tentunya berbeda-beda:

  • Takut terkena bencana alam,
  • Takut ketinggian,
  • Takut ditinggalkan pacar,
  • Takut gagal dalam ujian,
  • Takut terhadap masa depan anak,
  • Takut sakitnya tidak bisa sembuh,
  • Takut mati dan sebagainya dlsb.

Ayub berkata, “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.” (Ayub 3:25).

Ketakutan membuat seseorang kehilangan damai sejahtera. Ketakutan juga salah satu penghalang untuk mengalami berkat-berkat Tuhan, karena rasa takut dalam diri orang percaya membuktikan bahwa ia meragukan kuasa Tuhan alias tidak percaya penuh kepadaNya.

Yesaya 41:10, “janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”

“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” 2 Timotius 1:7

Dalam suratnya kepada Timotius, Rasul Paulus menegaskan bahwa Tuhan tidak memberikan kepada kita roh ketakutan. Artinya bahwa roh ketakutan itu bukan berasal dari Tuhan melainkan dari iblis yang berusaha untuk melemahkan dan menghancurkan kehidupan orang percaya.

Jika seseorang terus menerus dikuasai oleh rasa takut, ia tidak akan dapat melangkah maju untuk menggapai berkat Tuhan karena yang tertanam di hatinya hanyalah:

Tidak mungkin, Itu sulit, Pasti tidak bisa seperti yang dialami oleh 10 pengintai yang diutus Musa.

Mereka dan orang-orang yang terpengaruh pada laporan 10 pengintai akhirnya tidak bisa menikmati janji Tuhan. Sebaliknya keberanian Kaleb dan Yosua dapat mencapai tanah Perjanjian karena keduanya dapat mengalahkan roh ketakutan dalam dirinya.

Ketakutan yang terus dipelihara hanya akan membawa kita kepada kegagalan, dan menghalangi kita untuk melihat perkara-perkara besar yang dikerjakan Tuhan.

“…Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.” (1 Yohanes 4:4b). Dasar yang sangat kuat bagi kita untuk tidak takut menghadapi apa pun, yaitu Roh Kudus yang ada di dalam kita, dimana Ia lebih besar daripada roh apa pun yang ada di dunia ini.

Para murid menjadi sangat ketakutan ketika ada badai “…taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu,” (Markus 4:37). Bukankah hidup kita ini ibarat perahu yang sedang berlayar di tengah lautan luas, yang kadangkala dihantam ombak dan gelombang besar?

Ketakutan datang ketika kita mengandalkan kekuatan sendiri. Bila kita memiliki iman dan percaya penuh pada kebenaran firmanNya, kita dapat melewati badai apa pun dengan penuh kemenangan, karena Tuhan di pihak kita!



Pengampunan



Pengampunan

Matius 18:21

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”

18:22

Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

pengampunan

Mengampuni adalah tindakan memaafkan orang yang bersalah. Dalam Alkitab, kata Yunani yang diterjemahkan ”mengampuni” berarti ”merelakan”. Ini sama seperti orang yang tidak menuntut orang lain membayar utangnya

Mengampuni orang lain berarti kita tidak kesal lagi kepadanya dan tidak meminta ganti rugi atas kesalahannya. Alkitab mengajarkan bahwa kita harus benar-benar menyayangi seseorang agar bisa mengampuninya, karena kasih ”tidak mencatat kerugian”.­

Mengapa saya harus mengampuni orang lain?

Pengampunan menjadi inti dari iman Kristen, dan Juruselamat kita memberikan pengampunan bahkan menjelang kematian-Nya di kayu salib. Yesus mengasihi orang-orang yang telah memakukan-Nya di kayu salib dan memohon agar Bapa-Nya mengampuni mereka. Tuhan Yesus tidak memendam kepahitan atau kemarahan, melainkan menunjukkan anugerah dan kasih-Nya kepada mereka yang telah menyakiti-Nya.

Agar dapat menerima pengampunan atas dosa-dosa kita, kita perlu mengampuni orang lain. Mengampuni orang lain memungkinkan kita untuk mengatasi perasaan marah, kepahitan, atau balas dendam. Pengampunan dapat menyembuhkan luka rohani dan membawa kedamaian serta kasih yang hanya Allah dapat berikan.

  • Mengampuni adalah Perintah Tuhan

Ingatlah bahwa mengampuni adalah perintah dari Tuhan. Seperti ada tertulis pada Matius 6 : 14-15, Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

  • Mengampuni agar doa kita tidak terhalang

ada tertulis di Yohanes 15:7, Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.

  • Mengampuni agar terhindar dari penyakit

Mazmur 103:3, Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu

Cara Kita mengampuni Orang Lain

Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita dalam Matius 18:21-23. Dalam perikop ini Petrus mencoba menawarkan kepada Tuhan Yesus satu bentuk pengampunan yang luar biasa yang lebih tinggi dari pola pengampunan yang biasa dilakukan dalam masyarakat Yahudi.

Orang Yahudi biasa memberi batas mengampuni orang lain 3x. Petrus mencoba menawarkan lebih tinggi sedikit, yaitu 7 kali. Tetapi ternyata jawaban Tuhan Yesus jauh sekali dari pola pikir dan konsep hukum yang ditawarkan manusia. Tuhan Yesus memberikan konsep baru tentang pengampunan ini, yaitu: 70 x 7 kali.

Maksud dari ajaran Tuhan Yesus tentang mengampuni 70 x 7 kali adalah:

  1. Bahwa tidak ada alasan atau sebab apapun yang boleh diterima untuk tidak mengampuni orang lain.
  2. Cara kita mengampuni orang lain harus sesuai dan sama persis sebagaimana Allah mengampuni kita (Ef. 4:32; Kol. 3:13). Ini bukan hal yang mudah, tetapi pasti bisa dilakukan. Tuhan memberikan standar ini tentu dengan hikmat dan pertimbangan-Nya yang sangat bijaksana dan itu pasti telah disesuaikan dengan kemampuan manusia untuk melakukannya.
  3. Pengampunan yang diajarkan Tuhan ini berarti sebuah pengampunan yang tidak bersyarat, artinya:
      • Pertama, mengampuni semua kesalahan, ini berarti tidak ada sesuatu yang kita anggap sebagai kesalahan yang tidak dapat diampuni.
      • Kedua, melupakan kesalahan-kesalahan, ini berarti kita tidak membangkit-bangkitkan kesalahan orang lain dengan membicarakannya dengan orang lain pula.
      • Ketiga, tidak menghukum. Inilah yang dimaksud Tuhan Yesus mengampuni dengan segenap hati (Mat. 18:35). Tidak menghukum dengan segala cara, misalnya tidak mau berdamai, tidak mau memberi salam, mencela dan merusak nama baik orang yang kita anggap telah bersalah kepada kita.

Akhirnya kita harus membalas kejahatan dengan kebaikan (Rm. 12:21). Tuhan akan menunjukkan siapa yang berdiri dipihak-Nya. Berdiri dalam kebenaran dan kasih Allah. Kepada orang-orang seperti inilah Allah memberikan penghargaan-Nya. Amin.*



Hamba Uang



HAMBA UANG

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”  1 Timotius 6:10

hamba uang

Uang dalam ilmu ekonomi modern didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang dan jasa serta kekayaan berharga lainnya dan untuk pembayaran hutang. Tidak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan akan uang sebagai alat pembayaran telah membuat fungsi uang menjadi sangat berperan dalam kehidupan.

Uang adalah sesuatu yang sangat penting dan begitu berharga bagi kehidupan manusia.  Semua orang di mana pun berada, apa pun status sosialnya, bagaimana pun keadaannya, membutuhkan uang.

Kita perlu uang untuk memenuhi kebutuhan hidup kita sehari-hari:  membeli bahan makanan, membeli pakaian; membeli BBM, membayar tagihan listrik, air dan telepon, membayar biaya sekolah anak, membayar kontrakan rumah, semua memerlukan uang.

Bahkan dalam kehidupan rohani pun uang sangat diperlukan hamba-hamba Tuhan dalam menjalankan tugas pelayanannya, pembangunan gereja, untuk menjangkau jiwa-jiwa di pedalaman/pelosok, para misionaris, dan lain-lain.

Uang mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan kita.  Oleh karena itu kita harus berhati-hati dan jangan sekali-kali meremehkan uang. Ayat nas di atas dengan sangat jelas mengingatkan, jangan sampai kita diperhamba oleh uang.

Memiliki uang banyak bukanlah dosa, tapi jangan sampai kita menjadikan uang itu sebagai berhala dalam kehidupan kita sehingga hati dan pikiran kita hanya terfokus pada uang.  Karena uang kita tidak lagi ke gereja, tidak lagi ada waktu lagi ke keluarga, tidak ingat lagi teman saudara dll.

Ingat, cinta uang adalah akar dari segala kejahatan!  Demi mendapatkan uang dengan cepat banyak orang rela melakukan apa saja, bahkan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani mereka sekali pun:  memanipulasi pajak, menyalahgunakan jabatan dengan melakukan korupsi, dan lain-lain.

Bukankah sekarang ini korupsi sepertinya menjadi trademark para pejabat pemerintahan di negara kita?  Sering kita saksikan di televisi bagaimana para koruptor masih bisa tersenyum lebar ketika tertangkap kamera penyesalan dan malu rasa-rasanya sudah tidak ada lagi.

Sebagai orang percaya kita diingatkan:  “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.”  (Ibrani 13:5a).

 

Ciri-ciri Manusia Hamba Uang

  1. Bahwa kekayaan adalah merupakan tujuan hidupnya. Didalam tindakannya selalu memakai prinsip ekonomi
  2. Harapan masa depannya adalah uang yang seakan-akan dapat membahagiakan dirinya sehingga dengan cara apapun dia akan lakukan
  3. Fokus kepada hal-hal yang duniawi dan menomor satukan dalam hidupnya adalah harta dunia bukan Tuhan
  4. Keinginan daging lebih menonjol dari pada keinginan rohani dan kebenaran
  5. Mencintai uang lebih dari segalanya. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka ( I Tim 6 : 10)

Oleh sebab itu jauhilah manusia hamba uang dan jadilah manusia hamba Tuhan yang mempermuliakan nama Tuhan.

Ciri-ciri Manusia Hamba Tuhan 

  1. Selalu belajar mau mencukupkan diri
    Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu ( Ibr 13 :5a)
  2. Salah satu fungsi uang ialah menumpuk kekayaan
    Sebagai hamba Tuhan uang uang yang digunakan (difungsikan) untuk memuliakan nama Tuhan. Muliakanlah Tuhan dengan hartamu (Ams 3:9a)
  3. Manusia hamba Tuhan didalam hidupnya selalu mengucap syukur
    Mengucap syukurlah dalam segala hal sebab itulah yang dikehendaki Allah didalam Kristus Jesus bagi kamu (I Tes 5:18)
  4. Suka berbelas kasihan dan selalu ingin berbagi rasa
    Karena itu sebagai pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihinya kenakan belas kasihan, kemurahan, kelemah lembutan dan kesabaran ( Kol 3 : 12)

Kita harus menyadari bahwa uang hanyalah sarana kehidupan bukan tujuan hidup.

Tips agar tidak diper Hamba Uang

Hindari Gaya Hidup Mewah

Barang mewah seringkali menjadi ukuran dalam tingkat sosial dan meningkatkan ego seseorang. Jangan mengikuti ego kita, tetapi berusahalah untuk menekan hawa nafsu dan ego untuk memiliki barang mewah. Bijaksanalah dalam mengatur keuangan, sebaiknya digunakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat.

Hindari Hutang

Hutang akan memaksa kita untuk bekerja lebih keras agar bisa melunasinya. Seperti jerat yang mengikat, sehingga penting bagi kita untuk sebisa mungkin menghindari hutang. Hidup akan jauh lebih tenang bila bebas hutang dan kita tidak sampai diperbudak oleh uang.

KESIMPULAN :

Kepada kita diingatkan agar jangan tinggi hati bila diberkati Tuhan dan jangan berharap kepada sesuatu yang tidak tentu seperti kekayaan, melainkan kepada Allah yang memberi kita segala sesuatu untuk dinikmati (I Tim 6:17).

Janganlah kita jadi hamba uang sehingga hidup ini dikendalikan oleh uang tetapi biarlah hidup kita dikendalikan oleh Tuhan.

Janganlah kita bersusah-suah untuk mengumpulkan harta dibumi tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga (Mat 6:19-20)


Dukacita

ORANG YANG BER DUKACITA

Mat 5:4 “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihiburkan”

dukacita

Bahan mentoring yang lalu membahas tentang miskin hati dihadapan Tuhan, saat ini kita akan membahas tentang berdukacita yang merupakan bahan ke 2 dari 8 ucapan berhagia yang Tuhan Yesus ajarkan bagi kita.

Dukacita disini bukan bermakna kesedihan melainkan dukacita tentang pertobatan yaitu dukacita ilahi, bahkan secara harafiah Tuhan Yesus berkata di sini :”Berbahagialah orang yang tidak berbahagia.”

Jenis-jenis dukacita :

  1. Dukacita Alami (Kis 8:2)

Hal ini terjadi akibat kematian orang yang kita cintai, berpisah dengan orang yang dekat dengan kita, kekecewaan atau mengalamai tragedi kehidupan.

  1. Dukacita Duniawi

Dukacita yang berakar karena penyesalan atas suatu hal terjadi, karena konsekuensi dari tindakan yang dilakukannya.

  1. Dukacita Ilahi

Hal ini berdasar bahwa kita sudah berdosa dan melawan Tuhan dan di dalam pertobatan kita, kita datang kepada Tuhan untuk memperoleh kemurahan dan pengampunan dariNya.

Dukacita inilah yang membawa berkat dari Tuhan.

Cara Tuhan mengijinkan kita mengalami dukacita :

  1. Krisis (Rom 5:2-4)

Masa kesusahan dalam hidup kita akan membawa kita untuk mendekat kepada Tuhan dibanding dengan masa sukacita.

  1. Koreksi (2 Kor 7:8-10)

Masa-masa yang keras yang harus kita hadapi akan memperlihatkan, terbuat dari apakah hidup kita ini, melalui respon yang kita ambil akan terlihat hidup kita itu.

  1. Kekecewaan

Pengharapan yang timbul dalam diri kita kepada Tuhan yang tidak terwujud, inilah yang akan menimbulkan kekecewaan.

Contoh elia dalam 1 Raj 19:10

Hal apa saja yang dihasilkan dari suatu dukacita :

  1. Kepekaan

Kita menjadi pribadi yang mudah tersentuh dan peduli akan orang lain.

  1. Kedalaman (Yak 4:9-10)
  • Lebih mengerti dengan setiap kejadian-kejadian yang menimpa diri kita maupun di seputar hidup kita.
  • Memiliki nilai-nilai kehidupan bersama Tuhan sehingga bisa membagi pengalaman berharga yang bisa dibagikan kepada anak cucu kita maupun di dalam berbagi kepada orang yang menghadapi masalah yang sama dengan kita.
  1. Ketaatan (Ibr 12:11)

Menjadikan Tuhan sebagai sumber pengharapan hidup kita.

KESIMPULAN

Pandangan kita terhadap dukacita yang terjadi di sepanjang kehidupan kita janganlah menjadikan kita larut di dalam dukacita duniawi melainkan menjadikan kita bangkit untuk semakin bersemangat di dalam mencapai tujuan kehidupan kita bagi kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus yang mana didalamnya menghasilakan kebahagiaan yang sejati sesuai dengan kebenaran dan keadilan.