Penguasaan Diri



PENGUASAAN DIRI

2 Petrus 1:6, 8 (TB) dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan,
Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.

Salah satu kunci kesuksesan dalam perjalanan hidup seseorang adalah adanya “penguasaan diri“. Kesuksesan yang dimaksudkan adalah terdiri dari berbagai aspek seperti: pendidikan, pekerjaan, usaha dan keluarga.

Mengapa karakter atau sifat selalu dikaitkan dengan penguasaan diri?

penguasaan diri

Penguasaan diri berasal dari bahasa Yunani enkrateia artinya: pengendalian diri, mengekang diri (self control, control over desire), kesederhanaan dan tahan nafsu dapat mengendalikan diri; mampu mengontrol diri, suatu kekuatan dalam diri seseorang untuk menjauhkan diri dari dosa dan tidak menuruti keinginan daging.

Penguasaan diri begitu penting karena sepanjang hidup, kita berhadapan dengan berbagai hal yang bisa menyeret kita kepada kesia-siaan dan kegagalan. Penguasaan diri menolong kita untuk mengasihi Allah. Penguasaan diri berbeda dengan disiplin. Orang yang disiplin akan berkata, saya perlu mendisiplin diri untuk tidak berbuat itu (menahan). Sedangkan penguasaan diri mendorong kita untuk taat kepada Allah.

Penguasaan diri bukan hanya memotivasi seseorang untuk tidak melakukan hal yang sia-sia, atau bertentangan dengan Allah, tetapi juga mendorong seseorang untuk mentaati perintah Allah walaupun susah dan berat.

Contoh: Mengampuni orang yang telah menyakiti kita adalah tindakan yang seringkali berat untuk dilakukan.

Penguasaan diri akan memotivasi untuk menunjukkan kasih kepada Allah dengan jalan mengampuni. Orang yang tidak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya. Zaman dahulu setiap kota ada temboknya, sebagai alat untuk perlindungan dari serangan musuh. Orang yang tidak dapat mengendalikan diri (menguasai diri) berarti pertahanan dirinya sudah jebol. Ciri orang seperti ini biasanya suka mengeluh dan selalu menyalahkan orang lain.

Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” (Roma 7:18)

Kita sering kali mendengar pernyataan bahwa seorang atlet yang sedang bertanding di sebuah kejuaraan olahraga bahwa musuh terberat yang sesungguhnya bukanlah lawan, tetapi menaklukkan diri sendiri. Dengan kata lain ketidakmampuan dalam hal penguasaan diri seringkali menjadi faktor penyebab kekalahan seorang atlet.

Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. (I Korintus 9 : 25).

Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” (Roma 7:15).

Ungkapan Paulus ini mengindikasikan bahwa dalam tabiat sebagai ‘manusia lama’ ia tak dapat menguasai dirinya sendiri, namun setelah mengalami perjumpaan dengan Kristus dan hidup sebagai ‘manusia baru’ bahwa apa yang dikatakannya menjadi sangat berbeda.

“Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Galatia 2:19-20).

Kemampuan Paulus dalam hal penguasaan diri bukan berasal dari kekuatannya sendiri, melainkan dari pertolongan Roh Kudus dan kerelaannya untuk dipimpin Roh Kudus,

“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7).

Ketika seseorang hidup dalam pimpinan Roh Kudus ia tidak akan menuruti keinginan dagingnya.

“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” (Amsal 16:32).

Memiliki penguasaan diri berati: “Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,” (2 Korintus 10:5b)

Pada keadaan serta kondisi tertentu, terkadang seseorang tidak bisa menahan emosi yang berkecamuk didalam hati dan pikirannya. Dalam Firman Tuhan, tidak ada satu pun ayat yang menyebutkan, kalau marah itu dilarang.

Bisa diartikan, sebagai bagian dari sifat manusia, emosi manusia bisa saja diungkapkan. Namun Firman Tuhan jelas mengatakan : kalau kita marah, janganlah kita berbuat dosa.

Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa : janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu. (Efesus 4 : 26)

Seseorang terkadang tidak dapat mengendalikan dirinya ketika sedang marah.

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna.
“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun (I Korintus 10 : 23)

Kemarahan diri yang diikuti oleh tindakan menyerang fisik orang lain, maupun mengucapkan kata-kata yang bisa memancing amarah, bukanlah suatu perbuatan benar atau tindakan yang bisa dibenarkan. Bagaimanapun, sebagai orang yang percaya dan beriman kepada Kristus, kita harus bisa menempatkan hukum kasih sebagai landasan dalam perkataan dan perbuatan.

Tetapi buah Roh ialah : kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri. (Galatia 5 : 22)

Kita harus menyadari bahwa segenap tindakan atau ucapan yang salah, akan memiliki konsekuensi yang harus dituai atau dipertanggung jawabkan. Lalu, bagaimanakah caranya agar kita mampu menguasai diri?

• Belajarlah untuk bersabar dan menguasai emosi.
• Usahakanlah untuk bersikap tenang saat menghadapi konflik atau pertentangan dengan orang lain.
• Berusahalah untuk menghormati dan menghargai orang lain.
• Tidak mudah terbawa emosi orang lain.
• Tidak membangkit-bangkitkan rasa kesal atau amarah orang lain.

Tuhan Yesus sendiri juga pernah menunjukkan amarahNya, pada saat menemukan kondisi halaman Bait Allah dipenuhi oleh para pedagang. Kita boleh marah. Namun kita harus mengingat dan menguasai diri, agar tidak terbawa oleh arus kemarahan, ketika kita marah, kita tidak jatuh dalam dosa.

Janganlah membuat diri kita jatuh kedalam dosa dengan membangkit-bangkitkan rasa kesal dan amarah orang lain.

Kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. (Galatia 4 : 13)

Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan (Galatia 4 : 15)

Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” Amsal 16:32

Seseorang yang kuat secara fisik, belum tentu juga kuat secara roh dan mampu menguasai dirinya sendiri. Kita bisa belajar dari kehidupan Simson, di mana Alkitab mencatat bahwa ia sangat kuat, bahkan mampu mengalahkan ribuan orang Filistin dan menguasai sebuah kota. Tapi Simson tidak berdaya di hadapan Delilah. Ia tak mampu mengendalikan nafsu kedagingannya sehingga dengan mudahnya ia diperdaya oleh seorang wanita sehingga ia menceritakan rahasia kekuatannya.

Akibat tidak dapat menguasai diri, Simson harus mengalami nasib yang tragis. Penguasaan diri itu lebih penting daripada kekuatan fisik karena hal ini berhubungan dengan karakter. Begitu pentingkah penguasaan diri bagi orang percaya?

Kita harus dapat menguasai diri dalam hal:

1. Pikiran.

Jika kita tidak dapat menguasai pikiran maka itu akan berakibat pada tindakan yang tidak dapat kita kuasai, dan akan berdampak pada perbuatan negatif pula.

“…Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,” (2 Korintus 10:5b).

Artinya pikiran yang dipenuhi oleh firman Tuhan, segala tindakan dan perbuatan kita akan terarah dan terkontrol.

Daud berkata, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105).

Memiliki pikiran Kristus berarti mencari dan memikirkan “…perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.” (Kolose 3:1).

2. Lidah atau Ucapan.

“Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran.” (Amsal 21:23)

Oleh sebab itu kita harus dapat menguasai diri, lidah atau ucapan kita.

Yakobus mengibaratkan lidah kita itu seperti api, “…betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.” (Yakobus 3:5b).

Setiap orang percaya dituntut untuk bisa menguasai lidah atau ucapannya, karena banyak sekali pelanggaran dan kesalahan yang dibuat oleh lidah karena ucapan. Seseorang yang dapat menguasai lidahnya bisa diumpamakan seperti kekang pada mulut kuda, dan kemudi pada kapal yang berlayar di tengah angin keras.

Seringkali kita tidak dapat menguasai lidah. Saat kita sedang marah atau tersinggung oleh perkataan orang lain, seringkali perkataan yang keluar dari mulut kita adalah perkataan kotor, kasar dan melukai orang lain. Tidak sedikit masalah yang terjadi dalam hidup kita bersumber dari ketidakmampuan menguasai lidah atau ucapan yang keluar dari mulut kita.

3. Mata.

“Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu.

Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” (Matius 6:22-23).

Banyak kasus pemerkosaan terjadi sebagai akibat dari seseorang yang tidak mampu menguasai matanya untuk melihat hal-hal yang berbau pornografi. Juga karena matanya ‘silau’ melihat kemewahan dunia ini. Tidak sedikit orang berusaha untuk menimbun kekayaan meski dengan cara yang tidak halal, curang, korupsi, manipulasi dan sebagainya.

Benar apa yang dikatakan Yakobus bahwa “…tiap-tiap orang yang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” (Yakobus 1:1-14).

Sejauh mana kita dapat menguasai diri?

Perlu kita perhatikan bahwa penguasaan diri merupakan aspek yang perlu dilatih terus-menerus dan membutuhkan proses. Itulah sebabnya kita harus melatih roh kita supaya kuat, sehingga kita dapat menaklukkan kedagingan kita dan bisa menguasai diri.

Tidak ada jalan lain selain mendekatkan diri kepada Tuhan setiap waktu.

Kolose 3:17 (TB) Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.


Surga dan Neraka



Surga dan Neraka

Yohanes 14:2 (TB) Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.

John 14:2 (KJV) In my Father’s house are many mansions: if it were not so, I would have told you. I go to prepare a place for you.

Apa itu surga

Sorga adalah tempat Allah bersemayam, tempat Allah bertahta, dan rumah tempat tinggal bagi orang-orang yang percaya kepadaNya. Tempat orang-orang percaya akan menikmati hidup yang kekal bersama-sama dengan Allah. Sorga adalah tempat perhentian orang-orang percaya bersama-sama dengan Allah, dimana manusia selalu dapat merasakan hadirat Allah yang indah.

Apa itu Neraka

surge dan neraka

Melalui wahyu Alkitab, kita tahu setelah hari penghakiman, orang-orang durhaka akan dicampakkan ke dalam NERAKA. Karena semua manusia telah jatuh ke dalam dosa, manusia dilahirkan (tercipta) dalam daging , maka bila manusia mati maka tujuan-nya sudah pasti ke neraka kecuali dia dilahirkan kembali dari Allah.Neraka adalah tempat perhentian bagi orang-orang durhaka/fasik, tempat dimana manusia tidak dapat merasakan hadirat Allah sama sekali. Karena kasih-lah Allah menciptakan neraka. Karena orang-orang berdosa tidak akan tahan melihat kemuliaan Allah di Sorga!

Penghukuman orang-orang fasik di dalam neraka digambarkan Alkitab sebagai

  • “api yang kekal” (Matius 25:41),
  • “api yang tak terpadamkan” (Matius 3:12),
  • “kehinaan dan kengerian kekal” (Daniel 12:2), suatu tempat di mana
  • “ulatnya tidak akan mati dan apinya tidak akan padam” (Markus 9:44-49),
  • tempat “penderitaan” dan “nyala api” (Lukas 16:23-24),
  • kebinasaan selama-lamanya” (2 Tesalonika 1:9),
  • tempat penderitaan dengan “api dan belerang” di mana “asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya” (Wahyu 14:10-11) dan
  • “lautan api dan belerang” di mana orang-orng jahat “tidak henti-hentinya disiksa” (Wahyu 20:10).

Siapakah yang akan masuk sorga?

Mazmur 15:1-5: Mazmur Daud. TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi; yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.

Siapakah yang akan dicampakkan ke dalam neraka?

Galatia 5:19 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu — seperti yang telah kubuat dahulu — bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Wahyu21:8 Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.”

Surga dan Neraka



Ministry Classes Online




Ministry Classes Online – Kelas Pelayanan Online

ministry classes online training
ministry classes online

Menurut  Kamus ‘Oxford Advanced Learner`s’  definisi “Ministry” adalah “pekerjaan atau  tugas seorang gembalaatau pendeta untuk melayani jemaat di Gereja”.  Periode atau rentang  waktu yang dihabiskan selama  bekerja di ladang Tuhan baik sebagai gembala atau pelayan adalah tugas seorang pemimpin yang terlatih dengan  kemampuan dalam segala hal untuk melayani jemaat.

Setiap anak Tuhan adalah pelayan  potensial, kita dipanggil dan diselamatkan untuk melayaniNya. Dimanapun Tuhan memanggil dan menempatkan kita untuk melayani  dalam penggenapan “Amanat Agung” Yesus Kristus, penting sekali untuk mempertimbangkan kemampuan yang berfungsi sebagai fondasi untuk sebuah keberhasilan pelayanan.

Kemampuan sebagai Kelas Pelayanan Online – Ministry Classes Online

Hubungan intim dengan Tuhan

Bagaimana perasaan anda, ketika seorang  pimpinan berkata, “Saya sangat percaya kepada Anda, saya melihat begitu banyak potensi di dalam diri Anda,   Anda melakukan pekerjaan yang fantastis, sebab itu saya memiliki tugas  yang lebih untukmu. ”

Untuk menjawab pertanyaan itu coba renungkan pertanyaan ini. Apakah Tuhan mengenalmu? Apakah Anda memiliki hubungan baik dengan Tuhan?.  Tuhan mengenal Abraham karena hubungannya, karena imannya  (Kej.18: 19); Yeremia (Yeh 1: 5), Paulus (Kis. 19:15) dan Yesus (Mat.17: 5)

Kualifikasi Seorang Kelas Pelayan Online – Ministry Classes Online

Sebelum Tuhan dapat mempercayai anda, dalam suatu penugasan pelayanan, Anda harus dibekali dan memiliki beberapa kualifikasi sebagai seorang kelas pelayan online – Ministry Classes Online  antara lain:

  • Anda harus dilahirkan kembali. ( bertobat dan Terima Tuhan Yesus sebagai Tuhan , Juruselamat dan Raja – Yohanes 3: 7)
  • Anda harus dibaptis air dengan cara diselamkan. (Mark. 1: 9
  • Anda harus dibaptis dengan Roh Kudus.( Yoh 3: 5, 16:13)
  • Anda harus dipanggil dan diutus oleh Tuhan. (Yoh 15:16, 13:20; 1 Petrus 2: 9.)

Misalnya adalah para Rasul sebelum mereka memulai pelayanannya, Tuhan Yesus terlebih dahulu mempersiapkan para murid dengan beberapa kualifikasi, dengan berbagai  pelatihan  dan memperlihatkan mujizat. Apakah anda sudah memenuhi syarat tersebut?

Memiliki Kemampuan (ability) yang Relevan sebagai Ministry Classes Online

Keterampilan yang dibutuhkan untuk sebuah kelas pelayanan online – Ministry Classes Online – adalah memiliki dasar kemampuanyang relevan dalam pelayanan atau bidang yang ditekuni untuk menjamin keberhasilan dalam tugas pelayanan.

Tuhan sangat menginginkan pentingnya kemampuan pekerjaNya untuk memperoleh keterampilan dan dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus. Beberapa kemampuan yang mendasar yang harus dimiliki dalam  kelas pelayanan online -Ministry Classes Online- meliputi:

  1. Membaca Alkitab secara teratur . (2Tim 2:15; Mzm.119: 105, 80, 11; Yohanes 5:24.)
  2. Menghadiri kelas Sekolah Minggu. Ini masih merupakan suatu forum yang paling terpercaya dan efektif untuk mengajar, belajar dan menerima impartasi hikmat ilahi, pengetahuan dan pengertian. Pada Sekolah Minggu Alkitab harus digunakan sebagai dasar pengajaran.
  3. Pelatihan Sekuler. Disamping Memperoleh pelatihan di bidang Teologi atau kelas pelayanan online, adalah mempersiapkan keterampilan lain dibidang kehidupan sehari hari jemaat di market place dan rumah tangga, untuk mempersiapkan jemaat mendapatkan pelayanan yang terbaik.
  4. Mentoring. Kemungkinan besar anda akan menjadi seperti orang yang telah mengajar anda dan menanamkan hidupnya untuk Anda dengan segala bentuk pelatihan, pengetahuan, waktu dll. Anda akan terlihat seperti guru atau mentor anda, dan apa yang tidak Anda miliki, Anda tidak bisa memberinya pada orang lain jadi anda harus mengikuti Mentoring. Lihatlah siapa saja yang berhasil dalam pelayanan, periksa latar belakang mereka, pastilah dia memiliki seorang mentor / master yang sukses. Namun, Kristus seharusnya menjadi mentor utama kita. (Luk 6:40; Mat 23: 8)

 Menjadi Saluran Berkat dan Setia dalam segala hal

Sering kali, kita melihat orang  berlomba dan berjuang untuk menjadi seorang pemimpin, padahal kepemimpinan itu membutuhkan sebuah tanggung jawab dan panggilan khusus. Untuk melayani dengan tulus dan iklas hal ini akan menghabiskan banyak waktu, energi, uang, penyangkalan diri dan lain-lain. Tentu dari semua itu,  anda diharapkan untuk tetap setia dan mampu menjadi saluran dan memberikan kontribusi yang dapat memenuhi harapan orang banyak.

Ketika Tuhan memanggil Anda untuk melayaniNya,  hal itu jauh lebih besar daripada anda datang untuk menyerahkan diri  melayaniNya,  inilah  panggilan yang  spektakuler,  seperti Musa mendapat panggilan untuk membawa orang Israel keluar dari Mesir. Tuhan akan memberikan kuasa Pengurapan yang khusus  yaitu impartasi pengurapan double porsi dan disertai Mujizat pada tongkatnya.

Miliki Kasih Mula Mula dan Lemah Lembut

Jika Anda memiliki pelayanan yang baik, sangat penting bahwa Anda harus memiliki semangat yang menyala seperti jemaat mula mula yang dapat ditularkan. Kita harus selalu mau belajar, Tetap terbuka terhadap gagasan baru dan cara baru dalam melakukan sesuatu dengan kelemah lembutan..

Jika orang lain bersikap kritis terhadap Anda, jangan bersikap defensif – ambillah kesempatan untuk melakukan evaluasi diri dan menggunakannya untuk memotivasi diri anda untuk tumbuh dan berkembang. Sebagian besar kita diajar untuk bersikap rendah hati, terutama dengan Tuhan yang telah membrikan  otoritas untuk anda.

Hati yang lembut dan semangat yang menyala yaitu kasih yang semula harus ada pada diri anda. Jika anda dalam kesulitan anda dapat mengatakan, “Tuhan, saya benar-benar tidak mengerti hal ini atau akal sehat saya tidak menyetujuinya, tapi saya akan mengikuti Mu, jadilah kehendakmu.” Dalam hal  ini, Anda sedang melewati sebuah ujian.




Ministry Classes Online – Kelas pelayanan Online

Worship Ministry Values



Worship Ministry Values

 

worship ministry values
  • Team – We are working together toward the same goals with the same values.
    Servant leadership – Our first concern is the people we serve.
    Passion – We are in pursuit of God with a passion for a sustained, intimate relationship with Him.
    Purpose – We are in unwavering pursuit of God’s purpose for our lives, encouraging others to fulfill their purpose in Him through excellence.
    Inside out worship – Our worship will begin on the inside, born from revelation, personal experience, and a devotion that flows from a changed life.

New Hope Church Values

Grace Centered

What does it mean to be grace oriented? Some people think the word “grace” refers to a prayer prior to your meal. This little word is filled with deep meaning. To be grace centered means to have an abundance of generosity towards others. At New Hope, it means we are not going to judge you – no matter where you came from is what your past involves. We are going to go the extra mile to accept you because Jesus did the same for us. A church is a hospital for those who are spiritually ill. It is our goal to see you living a healthy life that brings honor to God. Then you too can extend grace to others. Romans 5:20

God Worshiping

At New Hope we are committed to honoring God through joyful expressions of corporate worship. We are open to hearing and experiencing the power of God’s presence through the ministry of music and practical Bible teaching, and creativity of the arts. We acknowledge God’s sovereignty over our lives and invite Him into our hearts through music, praise and exaltation. Psalms 96.9

Spiritually Transforming

Understanding the vitality of spiritual growth within the church, we actively encourage our members and friends to grow in their personal relationship with Christ through the disciplines of prayer, the study of God’s word and making four basic commitments:

  • Commitment to Christ and Membership in the Body of Christ
  • Commitment to Maturity in Christ.
  • Commitment to a Ministry with Christ
  • Commitment to Missions for Christ

A variety of Sabbath morning classes, small groups and various ministries and education classes meet throughout the week to provide opportunities for people of all ages to interact and grow spiritually, sharing challenges and asking questions that lead to a deeper understanding of Christ and His plan for our lives. Philippians 3:14

Culturally Relevant

Unfortunately, many churches in America are stuck in culture that existed 600 years ago (or longer). We understand that culture changes, therefore we are committed to sharing the gospel in a way your friends will be able to understand it. We are committed to making our music, preaching, “lingo”, the way we reach people, to be relevant to the culture of our zip code. Because we are committed to reaching the surrounding communities, we will do everything to “speak to same language.” Galatians 2:14-15

Community Connecting

Being continually prepared through our experience of worship, discipleship, nurture and evangelism, it is our privilege to offer our time and our talents in service to our local community and our world. We fix our eyes on the example set by Jesus, embracing all people as our brothers and sisters in Christ, and striving to extend unconditional kindness and service to all who are in need. Through various ministries that serve the local community, we are impacting people because they are children of God. Luke 4:18-19

Family Empowering

Children are the most impressionable people in the community. According to researcher, George Barna, most decisions are made (44 percent) by children before they are become teenagers. As a result, New Hope church is committed to reaching children and equipping families to make life long decisions for Christ. Matthew 19:14

Mission Compelled

Believing wholeheartedly that the good news of Jesus Christ is the best news for the world, it is our mission to reach out to the unchurched and share the hope that is ours through the cross of Christ our Savior. We embrace the great commission of Christ as being personally relevant to each member of our community and prayerfully seek opportunities to invite others into full fellowship with the body of Christ. We have taken Jesus’ words to “go” at heart. We are committed to going to the community before asking them to come to us. Our passion is to reach lost people for Jesus. Matthew 28:19-20

 



New Hope Church Worship Ministry Vision

New Hope Church Worship Ministry Vision

Worship Ministry Vision

We will be a team of servant-leaders who seek passion and purpose through inside-out worship.

The Vision Unpacked

We will be a team of servant-leaders

worship ministry vision

We must work together toward the same goals and with an understanding of the same values. Leadership is still important, but we must realize that the leadership Jesus modeled was that of servantleadership; He taught that whoever loses his life shall gain it; the first shall be last, etc. As leaders, our first concern must be for the people we serve. We must all be ministers, pouring our hearts out for the people of God and for others. We must remember that people are never a tool to serve the music, media or art, but that the music, media, or art always serves the people who seek passion and purpose.

We will be in pursuit of God

We will develop a passion for an intimate, devoted, and sustained relationship with God in Christ

through the guidance and dependence of the Holy Spirit. We will also seek to create an atmosphere of worship within the people of our congregation that also embodies this same passion in their lives.

We will pursue passion for God with the sense of purpose He has given us

We will not be distracted by looking to the left or the right of our goals, but will forge ahead as He guides. At the same time, we will encourage each individual of our congregation (as well as the others we come in contact with) to fulfill the specific purpose for which God has created them with excellence, beginning with the broad understanding that we were all created to worship Him with our lives through inside-out worship.

We will be intentional about inside-out worship

Inside-out worship is created from revelation and personal experience, and a devotion that flows from a changed life. Through this process we can begin to recognize that true worship begins on the inside and is not dependent on, but only enhanced by our outward expressions.