Penguasaan Diri



Penguasaan Diri

Penguasaan Diri

PENGUASAAN DIRI

2 Petrus 1:6, 8 (TB) dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan,
Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.

Salah satu kunci kesuksesan dalam perjalanan hidup seseorang adalah adanya “penguasaan diri“. Kesuksesan yang dimaksudkan adalah terdiri dari berbagai aspek seperti: pendidikan, pekerjaan, usaha dan keluarga.

Mengapa karakter atau sifat selalu dikaitkan dengan penguasaan diri?

Penguasaan Diri
penguasaan diri

Penguasaan diri berasal dari bahasa Yunani enkrateia artinya: pengendalian diri, mengekang diri (self control, control over desire), kesederhanaan dan tahan nafsu dapat mengendalikan diri; mampu mengontrol diri, suatu kekuatan dalam diri seseorang untuk menjauhkan diri dari dosa dan tidak menuruti keinginan daging.

Penguasaan diri begitu penting karena sepanjang hidup, kita berhadapan dengan berbagai hal yang bisa menyeret kita kepada kesia-siaan dan kegagalan. Penguasaan diri menolong kita untuk mengasihi Allah. Penguasaan diri berbeda dengan disiplin. Orang yang disiplin akan berkata, saya perlu mendisiplin diri untuk tidak berbuat itu (menahan). Sedangkan penguasaan diri mendorong kita untuk taat kepada Allah.

Penguasaan diri bukan hanya memotivasi seseorang untuk tidak melakukan hal yang sia-sia, atau bertentangan dengan Allah, tetapi juga mendorong seseorang untuk mentaati perintah Allah walaupun susah dan berat.

Contoh: Mengampuni orang yang telah menyakiti kita adalah tindakan yang seringkali berat untuk dilakukan.

Penguasaan diri akan memotivasi untuk menunjukkan kasih kepada Allah dengan jalan mengampuni. Orang yang tidak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya. Zaman dahulu setiap kota ada temboknya, sebagai alat untuk perlindungan dari serangan musuh. Orang yang tidak dapat mengendalikan diri (menguasai diri) berarti pertahanan dirinya sudah jebol. Ciri orang seperti ini biasanya suka mengeluh dan selalu menyalahkan orang lain.

Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” (Roma 7:18)

Kita sering kali mendengar pernyataan bahwa seorang atlet yang sedang bertanding di sebuah kejuaraan olahraga bahwa musuh terberat yang sesungguhnya bukanlah lawan, tetapi menaklukkan diri sendiri. Dengan kata lain ketidakmampuan dalam hal penguasaan diri seringkali menjadi faktor penyebab kekalahan seorang atlet.

Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. (I Korintus 9 : 25).

Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” (Roma 7:15).

Ungkapan Paulus ini mengindikasikan bahwa dalam tabiat sebagai ‘manusia lama’ ia tak dapat menguasai dirinya sendiri, namun setelah mengalami perjumpaan dengan Kristus dan hidup sebagai ‘manusia baru’ bahwa apa yang dikatakannya menjadi sangat berbeda.

“Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Galatia 2:19-20).

Kemampuan Paulus dalam hal penguasaan diri bukan berasal dari kekuatannya sendiri, melainkan dari pertolongan Roh Kudus dan kerelaannya untuk dipimpin Roh Kudus,

“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7).

Ketika seseorang hidup dalam pimpinan Roh Kudus ia tidak akan menuruti keinginan dagingnya.

“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” (Amsal 16:32).

Memiliki penguasaan diri berati: “Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,” (2 Korintus 10:5b)

Pada keadaan serta kondisi tertentu, terkadang seseorang tidak bisa menahan emosi yang berkecamuk didalam hati dan pikirannya. Dalam Firman Tuhan, tidak ada satu pun ayat yang menyebutkan, kalau marah itu dilarang.

Bisa diartikan, sebagai bagian dari sifat manusia, emosi manusia bisa saja diungkapkan. Namun Firman Tuhan jelas mengatakan : kalau kita marah, janganlah kita berbuat dosa.

Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa : janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu. (Efesus 4 : 26)

Seseorang terkadang tidak dapat mengendalikan dirinya ketika sedang marah.

Penguasaan Diri“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna.
“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun (I Korintus 10 : 23)

Kemarahan diri yang diikuti oleh tindakan menyerang fisik orang lain, maupun mengucapkan kata-kata yang bisa memancing amarah, bukanlah suatu perbuatan benar atau tindakan yang bisa dibenarkan. Bagaimanapun, sebagai orang yang percaya dan beriman kepada Kristus, kita harus bisa menempatkan hukum kasih sebagai landasan dalam perkataan dan perbuatan.

Tetapi buah Roh ialah : kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri. (Galatia 5 : 22)

Kita harus menyadari bahwa segenap tindakan atau ucapan yang salah, akan memiliki konsekuensi yang harus dituai atau dipertanggung jawabkan. Lalu, bagaimanakah caranya agar kita mampu menguasai diri?

• Belajarlah untuk bersabar dan menguasai emosi.
• Usahakanlah untuk bersikap tenang saat menghadapi konflik atau pertentangan dengan orang lain.
• Berusahalah untuk menghormati dan menghargai orang lain.
• Tidak mudah terbawa emosi orang lain.
• Tidak membangkit-bangkitkan rasa kesal atau amarah orang lain.

Tuhan Yesus sendiri juga pernah menunjukkan amarahNya, pada saat menemukan kondisi halaman Bait Allah dipenuhi oleh para pedagang. Kita boleh marah. Namun kita harus mengingat dan menguasai diri, agar tidak terbawa oleh arus kemarahan, ketika kita marah, kita tidak jatuh dalam dosa.

Janganlah membuat diri kita jatuh kedalam dosa dengan membangkit-bangkitkan rasa kesal dan amarah orang lain.

Kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. (Galatia 4 : 13)

Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan (Galatia 4 : 15)

Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” Amsal 16:32

Seseorang yang kuat secara fisik, belum tentu juga kuat secara roh dan mampu menguasai dirinya sendiri. Kita bisa belajar dari kehidupan Simson, di mana Alkitab mencatat bahwa ia sangat kuat, bahkan mampu mengalahkan ribuan orang Filistin dan menguasai sebuah kota. Tapi Simson tidak berdaya di hadapan Delilah. Ia tak mampu mengendalikan nafsu kedagingannya sehingga dengan mudahnya ia diperdaya oleh seorang wanita sehingga ia menceritakan rahasia kekuatannya.

Akibat tidak dapat menguasai diri, Simson harus mengalami nasib yang tragis. Penguasaan diri itu lebih penting daripada kekuatan fisik karena hal ini berhubungan dengan karakter. Begitu pentingkah penguasaan diri bagi orang percaya?

Kita harus dapat menguasai diri dalam hal:

1. Pikiran.

Jika kita tidak dapat menguasai pikiran maka itu akan berakibat pada tindakan yang tidak dapat kita kuasai, dan akan berdampak pada perbuatan negatif pula.

“…Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,” (2 Korintus 10:5b).

Artinya pikiran yang dipenuhi oleh firman Tuhan, segala tindakan dan perbuatan kita akan terarah dan terkontrol.

Daud berkata, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105).

Memiliki pikiran Kristus berarti mencari dan memikirkan “…perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.” (Kolose 3:1).

2. Lidah atau Ucapan.

“Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran.” (Amsal 21:23)

Oleh sebab itu kita harus dapat menguasai diri, lidah atau ucapan kita.

Yakobus mengibaratkan lidah kita itu seperti api, “…betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.” (Yakobus 3:5b).

Setiap orang percaya dituntut untuk bisa menguasai lidah atau ucapannya, karena banyak sekali pelanggaran dan kesalahan yang dibuat oleh lidah karena ucapan. Seseorang yang dapat menguasai lidahnya bisa diumpamakan seperti kekang pada mulut kuda, dan kemudi pada kapal yang berlayar di tengah angin keras.

Seringkali kita tidak dapat menguasai lidah. Saat kita sedang marah atau tersinggung oleh perkataan orang lain, seringkali perkataan yang keluar dari mulut kita adalah perkataan kotor, kasar dan melukai orang lain. Tidak sedikit masalah yang terjadi dalam hidup kita bersumber dari ketidakmampuan menguasai lidah atau ucapan yang keluar dari mulut kita.

3. Mata.

“Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu.

Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” (Matius 6:22-23).

Banyak kasus pemerkosaan terjadi sebagai akibat dari seseorang yang tidak mampu menguasai matanya untuk melihat hal-hal yang berbau pornografi. Juga karena matanya ‘silau’ melihat kemewahan dunia ini. Tidak sedikit orang berusaha untuk menimbun kekayaan meski dengan cara yang tidak halal, curang, korupsi, manipulasi dan sebagainya.

Benar apa yang dikatakan Yakobus bahwa “…tiap-tiap orang yang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” (Yakobus 1:1-14).

Sejauh mana kita dapat menguasai diri?

Perlu kita perhatikan bahwa penguasaan diri merupakan aspek yang perlu dilatih terus-menerus dan membutuhkan proses. Itulah sebabnya kita harus melatih roh kita supaya kuat, sehingga kita dapat menaklukkan kedagingan kita dan bisa menguasai diri.

Tidak ada jalan lain selain mendekatkan diri kepada Tuhan setiap waktu.

Kolose 3:17 (TB) Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.


Penguasaan Diri
Tagged on:         

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*